Selasa, 14 Juli 2009

Pemadam Kebakaran

Tadi saya menerima telepon dari seorang sepupu di Ternate. Dia mengabarkan bahwa rumahnya habis terbakar bersama hampir 300 rumah lainnya. Hampir satu RT lah. “Innalillahi wa innailaihi raajiuun” ucapku. Itulah kuasa Tuhan, tak satupun dari kita bisa menolaknya. Syukurlah kakak sepupuku beserta keluarga baik-baik saja. Katanya, penyebab kebakaran adalah lilin yang nyala apinya menyambar kain gorden salah satu tetangga mereka.

Saya jadi tertarik menulis tentang profesi pemadam kebakaran. Sebelumnya saya hampir tidak pernah menaruh perhatian pada profesi ini. Mungkin karena di kehidupan sehari-hari saya jarang “bersentuhan” dengan para pemadam kebakaran. Tidak punya kenalan yang bermata pencaharian sebagai pemusnah api ini. Hingga tadi setelah menerima telepon dari sepupuku itu, iseng saya menyalakan televisi. Kebetulan acaranya berita liputan tentang bagaimana keseharian para pemadam kebakaran jika tidak sedang ada pekerjaan memadamkan api. Mereka harus standby 24 jam menunggu panggilan kebakaran. Tentu saja dengan sistem shift. Mereka tidak boleh menjauh lebih dari 10 meter dari tombol daya 65 (kalau tidak salah namanya itu). Tadi diperlihatkan, tombol itu dipencet ketika mereka akan berangkat saat ada panggilan kebakaran. Tepat sebelum meluncur dari tiang besi entah apa namanya, seperti di film-film.

Aktivitas mereka selama menunggu panggilan darurat adalah menonton televisi, main catur, atau sekedar duduk santai. Kelihatannya begitu menjemukan. Mengingat mereka tidak boleh menjauh lebih dari 10 meter. Saya jadi berpikir, bagaimana kalau mereka dilengkapi dengan fasilitas komputer untuk mengakses internet ? Alangkah menyenangkannya. Mereka kan bisa browsing, chatting, ketemu teman lama di Facebook, atau mungkin blogging ? Lucu juga membayangkannya. Mereka kan punya banyak pengalaman selama menggeluti pekerjaan ini. Bukan kah kisah-kisah mereka itu bisa menjadi cerita yang menarik untuk ditulis dalam blog ?

Saya jadi sadar pekerjaan ini berat juga. Menantang maut kalau boleh saya bilang. Motto mereka JANGAN PULANG SEBELUM API PADAM. Terkadang saya mendengar orang-orang menyalahkan petugas pemadam kebakaran yang katanya terlambat datang di lokasi kebakaran. Mudah-mudahan saya tidak pernah termasuk yang menyalahkan itu. Padahal begitu ada panggilan darurat, petugas yang sedari berjam-jam sebelumnya terus standby langsung bergerak ke lokasi kejadian. Mengapa sampai terlambat ? Mungkin saja lokasi yang jauh. Saya membayangkan mobil pemadam kebakaran yang panjang itu harus melewati jalan raya yang padat. Meskipun sirine sudah dibunyikan, tetap saja laju mobil tidak bisa secepat Ferrari. Belum lagi jika rumah atau bangunan yang terbakar berada di dalam gang yang sempit dan padat penduduk. Mereka harus memutar otak bagaimana mencari jalan untuk mencapai titik kebakaran itu sedekat mungkin. Apalagi kalau mereka harus melewati kerumunan orang-orang yang panik atau hanya sekedar datang menonton kebakaran. Ternyata orang-orang ini bisa menjadi faktor pelambat juga. Masalah lain yang paling sering menjadi kendala menurut mereka adalah kesulitan mencari sumber air.

Tapi kok sepertinya pemadam kebakaran bukan termasuk profesi yang “bergengsi” di mata masyarakat kita ? Mudah-mudahan saya salah. Kalau melihat di film-film, di Amerika para pemadam kebakaran cukup dihormati dan dihargai. Jika ada petugas yang meninggal ketika sedang bertugas, yang bersangkutan diberi penghargaan oleh pemerintah daerah atau kota setempat. Mereka dianggap pahlawan. Kalau di Indonesia bagaimana ya ? Saya belum pernah melihat di televisi dan media lainnya. Kalau pun ada, berarti tidak terlalu menjadi pemberitaan. Gaungnya kalah dari berita perceraian artis-artis :).
Keep on fighting bapak-bapak !!

4 komentar:

Elsa mengatakan...

saya termasuk orang yang kecewa...sangat-sangat kecewa dengan PEMADAN KEBAKARAN REPUBLIK INDONESIA.

sakit hati pokoknya...

Hana Mugiasih mengatakan...

ouw napa bisa ? boleh dishare nda ?

Hana Mugiasih mengatakan...

Saya sudah berkunjung ke blognya Elsa dan membaca pengalaman buruknya dengan Pemadam KEbakaran RI. Hmmm rupanya masih cukup memprihatinkan ya... Harus banyak berbenah tuh. Tapi Elsa hebat, senang deh blogku didatangi oleh Elsa. :)

Renggo widianto. ST mengatakan...

Emang ada pemadam RI, pemadam itu bukan departemen, dia per pemdaa..

Posting Komentar