Jumat, 21 Mei 2010

Salam Dariku

5 komentar
Assalamu'alaikum...
Apa kabar kawan-kawan yang sudah sudi berkunjung ke blogku yang sederhana ini. Yah walaupun blog ini tidak seperti blog-blog lain yang canggih-canggih dan keren-keren (hehehe), yang punya pengunjung setia menunggu postingan baru dari penulisnya. Saya tetap ingin menyapa anda semua. Terima kasih ya.

Maaf nih buku tamunya sudah berbulan-bulan belum diganti. Bukannya tidak perduli atau mengabaikan. Sebenarnya ingin sekali saya menggantinya dengan yang lain, tapi karena beberapa alasan hingga sekarang belum juga terlaksana. Alasan yang paling tepat adalah kesibukan pekerjaan yang cukup menyita waktu. Sebagai seorang amatiran di dunia blog, saya butuh banyak waktu untuk mengutak-atik blog kecilku ini. Bahkan jika hanya ingin menerbitkan postingan baru sekalipun. Sebenarnya saya sudah meminta bantuan seorang teman untuk mengganti buku tamu saya ini, tapi tampaknya ia pun punya kesibukan. Dan tentu saja saya harus mengerti itu.

Sedih rasanya tidak bisa berkunjung balik ke blog teman-teman yang sudah singgah kesini. Jadinya saya cuma bisa mengunjungi blog teman-teman yang sudah berkomentar di postingan saja. Jadi untuk sementara jika teman-teman singgah lagi, kalau boleh saya meminta komentar saja ya di postingan. Supaya blognya bisa kukunjungi.

Terima kasih atas pengertiannya

Salam

Hana

Senin, 08 Februari 2010

Tante Reni

9 komentar
Saya tidak tahu pasti umurnya berapa. Entah siapa yang pernah melihat tanggal lahir di kartu tanda pengenalnya. Jika ditebak dari perawakan mungkin umurnya lima puluhan. Giginya sudah banyak yang tanggal sehingga pipinya terlihat kempot. Saat berbicara mulutnya terlihat kosong alias ompong. Rambutnya pendek mirip-mirip potongan ala Demi Moore. Sebelah matanya cacat. Kata orang itu karena ia pernah dilempar ember oleh seseorang yang kesal padanya hingga melukai matanya. Pakaiannya serampangan. Terkadang ia memakai celana sebatas lutut hingga urat-urat varises di kakinya yang menonjol terlihat jelas.

Tante Reni namanya. Ia hanya tinggal berdua dengan sang suami yang akrab dipanggil Om Inyo. Namanya sebenarnya Om Sinyo. Nama bagus-bagus disingkat jadi Inyo, hehehe. Kondisi Om Inyo tak beda jauh dengan Tante Reni. Gigi ompong, penampilan serampangan tak terurus. Umurnya mungkin sudah enam puluh tahun lebih. Tak banyak yang tahu pasti apa mereka pernah memiliki anak. Menurut orang-orang di kampung tempatku tinggal ini, mereka berdua agak kurang waras. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa diajak berkomunikasi. Mereka cukup bersosialisasi. Om Inyo sering dibayar dari mengedarkan kotak-kotak sumbangan di kampung. Sedang Tante Reni sering diberi uang ala kadarnya karena ia sering membantu-bantu penduduk kampung seperti memetik tangkai cabe sebelum diolah atau mencuci piring.

Tante Reni sering terlibat perkelahian dengan ibu-ibu di kampung ini. Meskipun sedikit kurang genap (istilah ibu kosku), Tante Reni “lihai” berkata-kata yang bisa membuat orang sakit hati. Tabiatnya inilah yang membuat sebagian orang kurang simpatik padanya. Mata dilempar ember itupun salah satu akibat dari kekesalan orang. Sejak saya tinggal di kampung ini, sudah beberapa kali saya mendengar Tante Reni berteriak-teriak sebagai indikasi bahwa ia sedang bertengkar dengan ibu-ibu lain. Tante Reni sering emosi menjawab dengan kata-kata yang tidak enak saat hanya sekedar disapa. Sering menuduh orang hal yang tidak-tidak. Bahkan kadang memfitnah. Mereka berdua sampai “terbuang” dari keluarga konon karena perilaku Tante Reni yang jahat.

Saya sering berpikir, jika sudah tahu Tante Reni kurang waras mengapa diladeni bertengkar ? Sudah banyak orang yang tersulut emosinya karena kata-kata tajam si tante ini. Mengapa tidak dicuekin saja ? Saya mungkin mudah saja berkata seperti ini karena belum pernah tersakiti oleh ucapan Tante Reni. Sejauh ini sikapnya padaku baik-baik saja. Tiap saya lewat di depan warung tempat ia biasa membantu-bantu atau hanya sekedar duduk-duduk, Tante Reni selalu menegur dan menyapaku dengan sebutan Mbak. Orang-orang di kampung ini sebagian memanggilku dengan sebutan itu, meskipun saya bukan orang Jawa. Mungkin karena saya tinggal dengan ibu kos yang orang Jawa dan akrab dipanggil Mbak.

Sudah seminggu ini Om Inyo terbaring di rumah sakit. Hidungnya berdarah. Entah diagnosanya apa. Katanya Om Inyo meminum obat penghilang pegel linu dalam dosis yang berlebih. Ia sampai harus didonor darah sebanyak lima kantong. Kami datang menjenguk setelah beberapa hari Om Inyo dirawat. Waktu itu belum satu pun keluarga mereka yang pernah datang. Bapak dan ibu kosku, serta keluarga bapak kosku sesekali datang menjenguk dan mendampingi Tante Reni mengurus keperluannya seperti membeli obat dan saat mencari donor darah.

Miris juga melihat pasangan ini. Hanya ada Tante Reni yang mendampingi. Dua lembar resep obat belum juga ditebus. Ketika ditanya mengapa belum ditebus, katanya apotek tutup. Seorang ibu di sebelah mengatakan apotek tidak tutup. Obat sirup yang harusnya diminumkan dua sendok tiap kali minum, hanya diminumkan satu sendok. Tante Reni tidak paham aturan minum obat ini. Mungkin karena tidak bisa membaca. Saat Tante Reni menyuapkan obat sirup itu, beberapa tetes jatuh ke kasur tanpa seprei yang ditiduri Om Inyo. Tante Reni lalu membersihkannya dengan sarung lusuh entah bersih atau tidak. Sedih melihatnya.

Kabar terbaru kondisi Om Inyo sudah mendingan. Ia mendapat donor darah dari penduduk kampung. Semoga cepat sembuh Om Inyo. Dan Tante Reni... Bagaimana ya biar ia tidak suka bikin orang emosi lagi ? :)

Kamis, 21 Januari 2010

Pengalaman Ke Pulau Di Ujung

5 komentar
Akhirnya masuk kantor lagi setelah 3 minggu berada di “luar”. 2 minggu kupakai berobat sekaligus liburan di Makassar. Sepulang dari Makassar, hanya tidur 2 malam di kamar kos lantas harus berangkat lagi ke Kabupaten Kepulauan Talaud selama 4 hari.

Sebagai pendatang di Sulawesi Utara, saya sangat antusias ketika kebagian kabupaten ini. Teman-teman yang mengkoordinir memang sudah tahu saya sangat menginginkan bisa kesana. Sebenarnya ada satu lagi kabupaten yang juga ingin kudatangi yaitu Sangir. Tapi Sangir sudah dibooking oleh teman yang punya keluarga di sana. Dibanding Sangir, Talaud lebih jauh. Pulau ini letaknya (katanya) 180an km lagi sudah sampai di Filipina. Inilah salah satu kenapa saya ingin bisa menginjakkan kaki disini. Saya cuma ingin “menjelajah”. Katanya perjalanan kesana jika dilakukan di bulan Desember – Januari cukup riskan. Mengingat cuaca yang kurang baik. Salah-salah bisa terdampar di Filipina. Seperti itu kira-kira ucapan mereka.

Rombongan kami ada 11 orang, wanita cuma 2 yaitu saya dan ibu Tineke. Kapal motor yang kami tumpangi berangkat jam 5 sore. Tiba jam 1 siang keesokan harinya. Ini tergolong sangat lambat. Kapal kami sampai dilambung oleh kapal lain yang berangkat dua jam lebih lambat dari kami. Penyebabnya adalah satu dari dua mesin kapal mati. Hanya sebagian kecil penumpang yang tahu tentang ini. Itupun karena salah satu penumpang yang seorang kapolsek bertanya ke kapten kapal. Penumpang mulai gelisah bertanya saat kapal kami sudah dilambung itu. Ibu Tine bahkan bertanya ke kapten, “Kep, so mo sampe minggu ini torang ?” yang bisa diartikan ,”Kep, kita sampenya minggu ini kan ?”. Ini diceritakan beliau saat sudah di darat. Syukur juga saya tidak tahu masalah kerusakan mesin itu. Bisa-bisa sepanjang malam saya gelisah memikirkan keselamatan kami. Kadang-kadang tidak banyak tahu menguntungkan juga ya…

Ketika kapal sudah sandar di pelabuhan, perasaanku lega. Akhirnya mendarat juga, pikirku. Namun ternyata… kami harus naik speed boat lagi ke pulau yang merupakan letak kecamatan Melonguane dan Beo. Melonguane merupakan pusat pemerintahan kabupaten Talaud yang juga adalah tempatku ditugaskan selama 4 hari ke depan. Dari Melonguane menempuh perjalanan darat selama 1 jam untuk sampai ke kecamatan Beo. Sedangkan kecamatan Lirung yang merupakan tempat tugas dua temanku, letaknya di pulau lain. Ini berarti harus naik speed boat lagi. Oh my God, pikirku. Ini saja saat sampai di penginapan di Melonguane badanku masih oleng.

Keadaan kota kecamatan Melong (biasa disebut lebih singkat seperti ini) yang sudah menjadi pusat pemerintahan saja sudah begini sepinya. Saat kami keluar jam 7 malam, keadaan sudah sepi. Toko-toko dan warung makan banyak yang tutup. Benar kata temanku yang juga hanya mendengar dari orang kalau kota di Talaud ini seperti kota mati. Pak Lody salah satu temanku berkata,”Adoh mo mati kita tinggal disini. Pe sepi skali…”. Saya sih santai saja. Mungkin karena terlalu antusias. Yang penting ada air bersih, dan makanan halal. Asal jangan kelamaan juga sih. Rindu mall soalnya, hehehe.

Entah ada berapa masjid di kota ini. Sepertinya cuma satu itupun jauh dari penginapanku. Makanya suara adzan tak pernah terdengar. Tiap maghrib hanya ada suara house music yang sangat keras layaknya di diskotik yang diputar di rumah di depan penginapanku. Arah kiblat pun saya tidak tahu. Tidak ada kompas dan penunjuk arah kiblat seperti yang ada di hotel-hotel di Sulsel tempatku dulu. Saat bertanya arah barat ke penjaga penginapan, ia menunjuk dengan ragu-ragu. Yah mudah-mudahan saja betul.

Alat transportasi utama masyarakat disini adalah bentor alias becak motor. Tidak ada mikrolet seperti di Manado. Pengemudinya banyak pendatang seperti orang Jawa dan Makassar. Sebenarnya jarak satu tempat ke tempat lain cukup dekat, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Cuma berputar-putar saja.

Mengenai kuliner, layaknya di daerah lain di Sulawesi Utara ikan tetap mendominasi. Namun ada juga menu lain yaitu ayam seperti di warung makan ayam kalasan milik orang jawa yang kudatangi. Biarpun makanan jawa, pengaruh Sangir sudah sangat terasa yaitu di sambalnya yang… wauw dahsyat pedasnya. Ibu Tine yang masih keturunan Sangir saja masih kewalahan. Beliau sampai berkomentar,” Ni rica bukan main. Cabu-cabu nyawa”. Saya hanya tertawa sambil mengiyakan. Walaupun sudah hampir dua tahun di Manado, kadang-kadang saya masih sering merasa lucu mendengar istilah-istilah masyarakatnya.

Setelah tugas kami sebagai Senior Teacher (ST) dalam Pelatihan Master Teacher Intel-Getting Started untuk guru-guru daerah terpencil selesai, kami pulang dengan memilih pesawat. Sebuah pesawat kecil yang kapasitas penumpang sekitar 40 orang saja. Harga tiketnya lumayan mahal Rp 600.000,-. Tiket kapal kami sewaktu datang untuk kelas VIP Rp 330.000,- sedangkan kelas ekonomi hanya Rp 165.000,-. Tiket pesawat Manado-Makassar pun masih lebih murah yaitu 400 hingga 500-an pada harga normal. Kami memilih perjalanan udara karena ketika kami akan pulang cuaca semakin buruk. Berita di televisi menunjukkan badai dan ombak besar di wilayah timur Indonesia. Alhamdulillah penerbangan lancar, sekitar 45 menit sudah sampai.

Kapan-kapan jika ada kesempatan saya ingin ke pulau Sangir. Walaupun Talaud yang lebih dekat ke Filipina tetapi Sangir lebih ramai dibanjiri barang-barang dari Filipina. Katanya di Sangir ada pulau yang merupakan pintu masuknya barang-barang selundupan dari Filipina. Saya penasaran saja ingin melihat keadaan pulau dan kotanya.

Rabu, 16 Desember 2009

Miripkah ??

21 komentar
“Si Anu mirip ya dengan Si Itu ?”, entah sudah berapa kali kuucapkan kalimat seperti ini dalam hidupku. Kalimat yang kuucapkan ketika melihat seseorang berwajah mirip dengan orang lain. Kita gampang saja menilai kemiripan wajah orang. Sedangkan orang bersangkutan yang wajahnya dimirip-miripkan itu biasanya tidak merasa. Bahkan ketika wajahnya dimiripkan dengan wajah saudara kandungnya sekalipun.

Selasa, 24 November 2009

Anaknya Disayang Dong !

11 komentar
“Ta mo bage pangana !!”. Kalau diartikan kira-kira artinya, “Kuhajar kamu !!”. Teriakan itu lagi. Entah pagi, entah siang, entah sore. Itu teriakan sang oma tetangga depan rumah. Yang diteriaki satu dari beberapa cucu laki-lakinya yang menurutnya sangat nakal. Dari pengamatanku, cucunya baik-baik saja kok. Masih dalam batas normal. Sang opa yang berbadan tinggi besar tak beda jauh perangainya. Senang berteriak saat memarahi cucunya. Satu lagi, sang menantu yaitu istri dari anak laki-laki mereka. Syukurlah suaminya “tidak doyan” mengeluarkan suara berisik juga. Huff…

Minggu, 22 November 2009

Menteri atau artis ?

4 komentar
Saya teringat beberapa tahun lalu ketika menonton sebuah acara remaja di salah satu stasiun televisi swasta. Acara seperti ini ya yang disebut variety show ? Di dalamnya memuat beberapa sesi berbeda. Ada liputan, kuis, ramalan bintang, dan lain-lain. Salah satu sesi, entah namanya apa dibuat seperti format acara cepat tepat. Dua regu yang masing-masing terdiri dari dua atau tiga orang anak SMU (lupa) saling berebut menjawab pertanyaan – pertanyaan untuk memperoleh poin sebanyak-banyaknya.

Senin, 16 November 2009

Belajar di Perantauan

12 komentar
“Singa jika tidak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Merantaulah, maka kau akan dapatkan banyak hal. Kau akan dapatkan pengganti dari sanak familimu.”
Kutipan ini kudapatkan saat mendengar siaran sebuah radio. Sayang sekali saya lupa siapa pemilik kutipan ini. Segera kuabadikan di catatan telepon genggam karena sangat mengena di benakku.