Senin, 16 November 2009

Belajar di Perantauan

“Singa jika tidak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa. Merantaulah, maka kau akan dapatkan banyak hal. Kau akan dapatkan pengganti dari sanak familimu.”
Kutipan ini kudapatkan saat mendengar siaran sebuah radio. Sayang sekali saya lupa siapa pemilik kutipan ini. Segera kuabadikan di catatan telepon genggam karena sangat mengena di benakku.

Dulu merantau adalah sesuatu yang terlihat sangat berat dan kupikir hampir tidak mungkin kulakukan. Makanya seseorang yang merantau terlihat hebat di mataku. Tetapi ternyata, sebagai singa akhirnya sarang kutinggalkan juga.

Bagiku ini bukan hanya tentang mencari mangsa, ini tentang memasuki hidup yang sebenarnya. Banyak hal baru yang kudapatkan. Hal-hal yang sampai membuatku terheran-heran dan berpikir,” Ada ya begitu ?” atau sekedar berkata,”Ooooh begini toh…”. Sebagian bisa kujadikan pelajaran hidup, sebagian lagi cukup untuk menambah pengetahuan tetapi tidak menutup kemungkinan bisa mengajariku sesuatu nantinya.

Saya hanya akan menceritakan sedikit dari pelajaran itu.

Di perantauan ini saya semakin tahu arti menghargai orang lain. Saya ini adalah seorang yang cukup egois. Mungkin karena “berstatus” anak bungsu dan satu-satunya perempuan dari 5 bersaudara, saya terbiasa diikuti maunya. Walaupun tidak separah anak tunggal kaya yang sangat antagonis seperti di sinetron-sinetron, tetapi saya cukup sadar bagaimana egoisnya diriku hehehe…

Sekarang, sifat itu harus disingkirkan perlahan-lahan. Kalau sekaligus sepertinya susah. Satu hal yang musti kusadari, di sini saya sendiri. Orang-orang baru yang kukenal ini tidak mengenal dalam latar belakangku, bagaimana dulunya saya diperlakukan. Yang mereka tahu, saya hanya seorang perempuan berusia sekitar seperempat abad yang tidak perlu diperlakukan istimewa layaknya anak kecil.

Saya harus belajar bisa menerima perlakuan atau sikap buruk seseorang saat ia dirundung masalah. Setiap orang punya cara sendiri dalam melampiaskan kekesalan atau kesedihannya. Dan itu terkadang membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman. Dulu saya bisa dengan seenaknya ngambek, marah, pasang tampang jutek, dan aneka ekspresi kesal lainnya saat punya masalah. Kini, saya yang harus sabar melihat orang lain bertingkah seperti itu.

Saya berkata pada diriku sendiri, “Hana, kamu sudah lihat kan bagaimana tidak enaknya diperlakukan buruk dan bagaimana enaknya diperlakukan dengan sangat baik oleh orang lain? Kenapa tidak kau perlakukan mereka sama seperti bagaimana kau ingin diperlakukan ?”

12 komentar:

Rin mengatakan...

iya mb.. betoL, betoL, betoL..
hidup anak rantau!! \^^/

tapi sering homesick.. hikz! T_T

Fenty Fahmi mengatakan...

belum pernah merantau, jadi pengen merantau dan belajar mandiri :(

Zahra Lathifa mengatakan...

aku udah kenyang merantau..hehe, sekarang juga masih di rantau, malah kangen kampung halaman, huhuuu...

amrihdwf mengatakan...

Memang bener kayak gitu.
Kita belajar lebih mandiri, harus lebih bertanggung jawab, harus bisa menghargai orang lain dan harus bisa mengatur keuangan sendiri...Selamat merantau.

Btw merantaunya kemana?

annie mengatakan...

Perantauan memang bisa menjadi kelas tersendiri di universitas kehidupan. Maka selamat berlatih menjadi orang yang makin arif dan dewasa.
Keep smiling and keep blogging ...

ajeng mengatakan...

Selamat menikmati 'proses' untuk pendewasaan diri ya.. Yakin bisa bisa. Salam,terima kasih sudah mampir di rumah bunga saya ^_^

zujoe mengatakan...

hkhkhk... banyak benernya sih mba...

aku juga perantau sih hehe... lam kenal ya mba..

-Gek- mengatakan...

"anak tunggal kaya antagonis"

Aduh, itu hanya sebatas sinetron mbak.
Saya anak tunggal yang ditelantarkan orang tua, tapi tetap tegar.

Tuhan mencintai saya dengan cara NYA, yang saya tahu,

"Kita tidak bisa mengubah dunia, atau orang lain, yang bisa kita ubah hanya diri kita sendiri."

Hidup di rantau memang pelajaran hidup. Tapi, saya mau pulang ah.. :)

Hana Mugiasih mengatakan...

Untuk semua, makasih sudah memberikan komentarnya ya ^_^
Fenty, wah belum pernah ya? Hmm banyak juga temanku yg belum pernah jadi perantau. Maka bersyukurlah, tidak perlu jauh dari keluarga :)
Rin, Zahra, Zujoe--> banyak teman nih saya hehe
Amrihdwf--> Merantaunya tidak jauh2 kok masih di pulau Sulawesi juga. Manado.
Gek--> Hehe saya kan bilangnya "seperti di sinetron-sinetron". Tapi manusia di dunia ini banyak loh. Untuk kasusnya gek mungkin tidak, tapi di belahan bumi lainnya, who knows?. Tapi saya sangat setuju dengan Gek kalau,"Saya juga mau pulaaaaaaaaaaaaang" hihihi... ^_^
Annie & Ajeng--> Makasih ^_^

elpa mengatakan...

lam kenal y mbak....aku juga lg merantau juga,tp y gini sudah suratan takdir di nikmati aja karena ini sudah jd pilihan ku.baik buruknya sendiri tanggung,tp membuatku lebih dewasa mengajar kan arti kehidupan yg keras jauh dr keluarga...semuanya hrs dipikir sendiri.tp ga papa aku msh ytegar harap mbak pun sama...kita
sama2 anak bungsu....hilangkan kemanjaan,

tini mengatakan...

lima tahun merantau... tapi masih punya sifat yang hampir sama ...

salam ukhuwah mbak :)

shahfutra mengatakan...

ia, bener2 membuat dan membentuk mandiri yg lebih baik..asalkan tidak salah pergaulan heheh..

Posting Komentar