Minggu, 30 Agustus 2009

Saya di Manado

Manado… Tak pernah terbayang kalau saya akan tinggal di kota ini. Walaupun masih berada di satu pulau dengan dua kota tempat tinggalku sebelumnya (Kendari dan Makassar), Manado sangat asing bagiku. Namun pekerjaan sebagai abdi negara lah yang akhirnya membawaku kesini. Itulah rahasia Allah, apa yang akan terjadi manusia tak pernah bisa tahu pasti. Karena itulah dalam ilmu Statistika dikenal istilah peluang. Kita hanya bisa menghitung seberapa besar peluang kejadian yang akan terjadi. Tidak ada rumus matematika untuk menentukan kejadian apa yang akan terjadi besok. Hehehe jadi ingat masa-masa kuliah. Kembali ke soal kesanku terhadap kota tempat tinggalku sekarang ini. Tentunya tiap kota memiliki perbedaan. Dan itulah yang menjadi salah satu sisi menarik dari berpindah tempat tinggal. Karakteristik kotaku sebelumnya yang kujadikan parameter untuk memberi kesan terhadap kotaku yang sekarang.

Pertama tiba di bandara Sam Ratulangi, sudah lewat tengah malam. Saya memilih penerbangan pada jam itu karena itulah harga termurah. Waktu itu bertepatan musim liburan jadi tiket lumayan mahal. Tentu saja karena malam saya tidak bisa melihat jelas keadaan kota. Nanti keesokan hari baru terlihat betul bagaimana situasi kota Manado. Bersih, itu kesan pertama. Manado mungkin bukan kota terbersih di Indonesia. Tetapi berhubung kota yang menjadi pembanding adalah Kendari dan Makassar, maka sangat pantas jika ini yang menjadi kesanku. Penataan kotanya pun rapi. Pusat perbelanjaan seperti mall dan pertokoan besar terletak di daerah pinggir laut yang oleh masyarakatnya disebut Boulevard. Sungguh menyenangkan saat kita makan di foodcourt di lantai paling atas beberapa pusat perbelanjaan. Sambil makan menikmati pemandangan laut yang indah. Ya laut Sulawesi Utara memang indah.

Dari segi bahasa, Makassar dan Kendari banyak memakai “partikel” berupa imbuhan yang sama. Namun tidak demikian dengan Manado. Logat Manado termasuk yang cukup populer di Indonesia. Partikel jo dan dang, kata ngana, sudah lama kudengar. Tapi jangan salah, walaupun sekilas bahasa Manado hanya memakai kata-kata bahasa Indonesia ternyata membingungkan juga. Sebagai contoh, kata alus (dari kata halus) yang ternyata berarti kecil (untuk benda) atau kurus (untuk tubuh manusia). Iko (dari kata ikut) juga diartikan lewat. Misalnya ketika ada yang berkata, iko sini itu berarti lewat sini. Satu lagi yang pernah membuatku salah mengerti. Kata batunangan kupikir artinya bertunangan padahal berpacaran. Fuhh… Terakhir ada istilah gaul masyarakat Manado dalam menyebut orang tua. Ajus yang berarti ibu dan sebe yang berarti bapak. Seorang teman pernah memberitahuku kepanjangan dari kedua istilah tersebut. Mungkin itu plesetan yang dicocok-cocokkan saja. Saya tidak tahu pasti. Sebe adalah singkatan dari Setan Besar, sedang Ajus dipanjangkan menjadi Ajudan Setan. Wah ada-ada saja. Ada yang bilang istilah ini sebenarnya kurang sopan penggunaannya. Tapi kok banyak dipakai ya ? Bahkan mereka yang sudah berstatus orang tua pun memakai istilah ini. Entahlah…

Untuk angkutan umum dalam kota atau mikrolet, orang Manado menyebutnya dengan nama yang lebih singkat mikro. Warnanya sama dengan mikrolet di Makassar dan Kendari yaitu biru muda. Perbedaan terletak pada susunan tempat duduknya. Jika di Makassar dan Kendari bangku dipasang berhadap-hadapan, di sini dipasang semua menghadap ke depan seperti pada bis atau mobil pribadi. Tempat duduk tambahan berupa papan yang dipasang di antara kedua kursi di barisan tengah disebut tempat duduk VIP. Penamaan yang sedikit bergengsi. Kalau di Makassar, tempat duduk tambahan dipasang di depan pintu menghadap ke semua penumpang. Sehingga orang yang duduk disitu terlihat seperti televisi yang dipandangi semua penumpang lain. Anak muda Makassar sering menyebutnya televisi atau kursi ulangtahun. Dan hal yang membuatku sedikit heran pada awalnya adalah di kursi samping supir, bisa diduduki oleh dua orang jika sedang penuh. Jadi di depan bisa tiga orang dengan supir. Bayangkan jika kedua penumpang itu berbadan besar. Betapa sempitnya. Jika naik mikro sendirian, saya tidak mau duduk di depan. Bagaimana jika di perjalanan ada penumpang yang juga duduk di depan, apalagi kalau laki-laki. Sangat tidak nyaman.

Terakhir, orang-orang Manado berperangai ramah. Mereka tidak segan menegur orang yang baru ditemuinya. Misalnya saat berpapasan di tempat-tempat umum atau saat menjumpai teman baru di tempat kerja. Menyapa dengan senyuman sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Sebenarnya, masih banyak yang bisa diceritakan dari Bumi Nyiur Melambai ini. Disebut begitu karena dimana-mana tanahnya ditumbuhi pohon kelapa. Jika kuceritakan semua, sepertinya bisa jadi satu buku :). Atau malah saya bakal dikira duta pariwisata Sulawesi Utara.

11 komentar:

dian mengatakan...

Senangnya bisa menjelajah Nusantara. Menginjakkan kaki di Makasar saja saya belum pernah. Suatu saat kalau saya ke sana, saya akan mencari hana untuk menjadi guide. :D

Zippy mengatakan...

Hmmm, jadi pengen main ke Manado nih.....
Kebetulan tinggal di Jayapura, jadi gak terlalu jauh kayak'x, heheheheh.....

morgot mengatakan...

salam kenal ya, saya ada rencanaa ke sana. survey usaha di bidang fashion. khususnya anak muda. kira2 potensi marketnya bagaimana bila di bandingkan dengan makasar. ke2 kota terebut belum pernah jg. sekarang saya sudah buka di samarinda, thanks ya advice nya....

Hana Mugiasih mengatakan...

To Morgot,
maaf saya baru liat komentar anda. Hmm anak2 muda manado sangat fashionable. Senang gaya banget. Sebagian dari mereka senang bergaya ala jepang2 gitu deh. Cewek2nya suka pakean sexy2. Mix and match busana dengan warna2 yang macam2.
Kalo makassar,
anak2 mudanya juga fashionable. Hanya mungkin karena mayoritas muslim, jadi market pakean anak muda muslim musti diperhitungkan. Walau tetap modis sih. Kalo untuk cowok kayaknya sama saja dengan di Manado.
Kalo masih belum puas, ga papa tanya2 lagi... ^_^

Kurniawan.q mengatakan...

terimakasih infonya saya jadi tau dan ingin berkunjung kesana

kakve_santi mengatakan...

ahh bicara nyiur saya jadi rindu pantai di mataram!

-Gek- mengatakan...

Hai Hana!
Gek likes this.. (emangnya FB)
Ajus dan Sebe buat saya ngikik sendiri..
(teganya mereka! - hehe!)

Adu duh.. kapan ya saya bisa ke pulau2 lain di Indo... yah, kalo ada jodoh pasti bisa. :)
Salam kenal Hana, makasi udah mampir!

RifkyPanzer™ mengatakan...

Manado? wow..Rica rica hehehehe

adhyz82 mengatakan...

ieh tawwa banyak yg komentar ya

Lina Marliana mengatakan...

Wah.. jadi pengen tau banget tempatnya..
Aku nih jarang banget kemana2, jangankan ke Manado yg jaraknya jauh... yg deket2 aja di kota tetangga aja jarang banget kok.. Coz aku punya kebiasaan buruk selama di perjalanan... yaitu mabok.. hehehe

Hana Mugiasih mengatakan...

Kurniawan--> kapan2 pasiar kamari bole noh ^_^
kakve_santi--> woo Mataram, kapan ya bisa kesana...
Gek--> kurang gambar jempolnya :D
RifkyPanzer™ --> makang ayam rica-rica sampe pica-pica suar hehehhe
Lina Marliana--> kan ada antimo mbak :)

Posting Komentar