Jumat, 02 Juli 2010

Ban

19 komentar
Ada satu istilah yang dipakai orang Manado sehari-hari yang sampai dua tahun ini kadang-kadang masih membuat otakku loading sepersekian detik untuk memahaminya. Bola. Kata itu yang otakku kenal sejak pertama adalah benda bulat yang biasa dipakai dalam beberapa cabang olahraga. Yang paling populer adalah sepakbola. Yah saya tidak punya Kamus Besar Bahasa Indonesia jadi definisi yang benar secara tata bahasa di Indonesia tidak dapat kucantumkan.

Orang Manado menyebut ban kendaraan dengan nama “bola”. Sampai sekarang masih terasa aneh di telingaku. Ingin rasanya ku protes,”Jangan pakai istilah bola donk.. Bingung nih. Otakku harus loading dulu untuk akhirnya mengerti bahwa yang kalian maksud itu adalah ban, bukan bola yang biasa ditendang itu”. Hehehehe tapi siapa saya ? Cuma penduduk pendatang masak mau larang-larang orang pakai bahasanya sih.

Bapak dan ibu kos yang belum mempunyai anak itu baru saja membeli sebuah sedan Toyota second hand. Karena harganya yang sangat murah maka wajar kalau banyak bagian yang mesti diganti, salah satunya ban yang sudah gundul. Kemarin kami sempat ngobrol tentang rencana mereka keluar jalan-jalan malam minggu dengan mobil “baru” itu. Mereka mengajakku. Bapak kos kemudian nyeletuk,”Tapi mesti beli bola dulu nih.”

Lagi-lagi otakku loading…

Kenapa harus beli bola dulu ? Sambil membayangkan benda bulat di lapangan hijau. Apalagi ini masih dalam suasana Piala Dunia. Gambaran bola lalu buyar, berganti dengan tabloid Bola yang tentu saja masih berhubungan dengan olah raga sepakbola. Oh bola yang itu mungkin. Otakku kemudian berpikir lagi… Aha! Bukan bola itu!! Ban baru maksudnya!!! Hehehe dialog ini terjadi dalam sepersekian detik saja. Jadi saya tidak sampai terlihat bloon karena kebingungan di depan mereka.

Saya teringat ketika SD dulu. Pada suatu waktu, ibu guru bertanya,”Anak-anak… siapa yang bisa menyebutkan apa fungsi bank?”.

Beberapa teman angkat tangan.

Seorang menjawab,”Sebagai tempat menabung, bu!!”.

“Salah!”, ibu guru menjawab.

“Tempat menyimpan uang, bu!!”.

“Masih salah!”, kata sang ibu lagi.

Beberapa anak masih berusaha menjawab dengan jawaban yang bernada sama. Dan semua… Salah. Kami semua bingung, terus apa donk jawaban yang betul ? Pikir kami. Ibu guru pun akhirnya mengatakan jawaban benar seperti mengerti kebingungan murid-muridnya. “Fungsi bank adalah agar kendaraan dapat berjalan…”. Kira-kira begitulah isi jawaban ibu guru. Kami spontan saling berbisik,”Ssst oooh maksudnya BAN?”.

Tak satu pun dari kami yang protes. Mungkin karena dua hal. Pertama, kami tinggal di Sulawesi Selatan. Salah satu ciri khas dari dialek masyarakatnya (Bugis, Makassar, Mandar) adalah tambahan “G” di akhiran kata-kata yang normalnya berakhiran “N” atau “M” seperti kata BAN di atas. Jadi kami maklum saja dengan kesalahan itu, hehehe. Alasan kedua adalah waktu itu tahun 90-an. Murid-murid pada masa itu belum sekritis jaman sekarang. Untuk hal (kalau bisa dibilang) sepele seperti itu, tak perlu diprotes. Paling tidak ini menurut kami yang masih duduk di kelas 6 SD pada masa itu.

Wajar saja ya kalau saya pernah mendengar cerita ada orang asing yang mencoba belajar Bahasa Indonesia, mengaku kebingungan. Katanya Bahasa Indonesia untuk satu makna saja kata yang digunakan banyak. Bingun'.